Senin, 21 Mei 2012

HATI RAKYAT


HATI RAKYAT
Oleh : * SUNARWAN SULAIMAN
Perkenalkan nama saya Rian. Saya tinggal di bawah jempatan. Pekerjaan sehari-hari saya mengamen. Di pagi hari seperti biasa saya terbangun oleh suara kendaraan yang  melintas di bawah jempatan. Saya tidur bersama sahabat namanya Tio. Hari ini sangat cerah. Waktunya untuk mencari makan sedangkan teman saya masih tidur karena kecapean mengamen tadi malam. Saya pergi mengamen di zebra cross. Mata saya tertuju pada mobil hitam. Saya berlari menuju kesana dan bernyanyi. Seorang wanita membuka jendela mobil dan memberikan uang seribu kepada saya. Dan kemudian saya mengucapkan.
“terima kasih bu.”
Ibu itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Akhirnya saya mendapatkan uang dan saya pergi membeli roti untuk menjanggal perut. Saya duduk di pinggir jalan sambil makan roti dan melihat mobil melintas.
Teman saya terbangun oleh suara mobil truck. Dengan wajah mengantuk sambil mengusapkan tai matanya. Teman saya melihat diriku ini sedang duduk di pinggir jalan dengan mata bercahaya. Teman saya menghampiriku.
“Makan tidak bagi-bagi.” Berkata sambil berjalan kepadaku.
“Eh kamu sudah bangun.”
“Kenapa nggak mengamen?”
“Kamu nggak liat aku sedang makan.” Mengankat alis sambil berkata kepada Tio.
“oh iya, aku lupa.” Menjawab dengan senyum
“Kamu kenapa nggak ngamen juga?”
“Aku masih ngantuk. Soalnya tadi malam aku mengamen di pinggir pantai.”
“Oooh.”
Temanku ikut duduk bersamaku dan melihat langit sambil berkata.
“Sampai kapan ya kita begini?”
“Maksud kamu.”
“Maksud saya sampai kapan kita mengamen?. Padahal mengamen itu tidak menghasil uang banyak. Hanya sebagian orang-orang yang mau memberikan uangnya kepada kita. Padahal kita terkadang marah-marah kepada orang yang tidak memberikan uangnya kepada kita.” Sambil menundukkan kepalanya.
“Sabar saja, itu sudah pekerjaan kita.”
“Ah mengapa aku menjadi pengamen?” sambil melihat langit.
“Kamu tidak sadar ya ini sudah takdir kita.” Menatap wajah Tio.
“Aku nggak percaya dengan namanya takdir. Takdir bisa di ubah.”
“Eehhh kamu nggak lihat Presiden, Gubernur, dan Wali kota saja nggak pernah perhatikan kita. Dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri.”  Dengan ekspresi marah.
“Sibuk apa si dia?”
“Wali kota kita sibuk dengan membangun gedung-gedung pencakar langit.”
Tio tersenyum melihat ku.
“Padahal kota ini masih ada kekurangannya.”
“Kurang apalagi kota ini rumah sakit dimana-mana, tempat hiburan sudah ada, dan hotel berbintang pun sudah ada dan juga mol. Apa lagi sih kekurangannya?” dengan mengangkat kedua tangannya.
Saya pun tersenyum mendengar jawaban Tio.
“Kamu ingin tau kekurangannya kota ini.”
Tio membalas dengan menganggukan kepalanya.
“Banyak kekurangan kota ini. Wali kota kita sibuk dengan membangun gedung-gedung pencakar langit, sehingga dia melupakan daerah yang terkena banjir, pencurian di mana-mana, dan salah satunya kita. Dia melupakan kita. Padahal kita lahir di negara ini. Apakah kita tidak mempunyai hak untuk negara ini.” Dengan mata bercahaya.
“Iya ya banjir dimana-mana, pencurian, dan gedung pencakar langit. Berarti pemimpin kita nggak ada artinya ya.”
“Jadi kita pasrah aja menjadi pengamen.” Menundukkan kepalanya dan menjatuhkan air matannya.
Tio memegang pundaknya dan berkata.
“Kita jangan menyerah kawan. Semua ini akan ada balasannya kawan. Kita harus cari kerja.”
“Gimana caranya cari kerja?. Kita saja tidak pernah sekolah.”
“Bersemangatlah, apa sih yang tidak bisa di dunia ini?”
“Kau bersemangat sekali.”
Seorang pemuda melihat kita berdua duduk di jalanan dan dia menuju kesini.
“Selamat pagi?” kata pemuda itu.
“Selamat pagi juga.” Mereka berdua menjawab.
“maaf aku mengganggu.”
“iya ngga papa, kenapa ka?”
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Tadi kalian berbicara  tentang presiden kalau tidak salah.”
“Oooh itu ka. Kaka tidak salah, kami memang bercerita tentang itu.” Pemuda itu langsung duduk.
“Perkenalkan nama  saya Ari.” Dengan mejabat tangan mereka.
“Namaku Rian dan disampingku Tio. Jadi begini ceritanya ka, temanku malas menjadi pengamen. dia ingin mencari kerja, tetapi aku tidak. Karena pemerintah tidak pernah perhatikan kita.” Rian melihat pemuda itu matanya bercahaya.
Pemuda itu mengusapkan matanya dan berkata.
“Semua ini karena Demokrasi dan kalian adalah korban dari modernisme. Kalian di lupakan oleh pemerintah karena budaya barat masuk ke negeri ini. Dulu pada zaman soekarno tidak ada pengamen dan pengemis. Yang ada hanya berjiwa garuda. Hati kita satu dengan pulau-pulau yang lain dan juga pancasila ada di hati kita, tapi sekarang tidak ada. Sekarang hanya ada konflik, demo, dan korupsi. Kalian adalah korban Demokrasi.” Mereka terkejut mendengarkan perekataan pemuda itu.
“Demokrasi itu apa ka dan modernisme itu  apa ka.”
“Hehehe kamu nggak tau apa itu Demokrasi dan Modernisme. Berhenti sejenak dan melihat langit.
“Demokrasi itu kebebasan berpendapat dan modernisme itu berasal dari kata modern dan kalian sudah merasakannya tiap hari. Hehehe beginilah para elit-elit politik yang memakai kata tingkat tinggi, sehingga sebagian masyarakat tidak tau makna dari demokrasi dan modernisme. Coba kalau para elit-elit kita bicara apa adanya dan tidak menggunakan bahasa tingkat tinggi. Pasti kalian tau hehehehe. Kalian adalah korban Demokrasi.” Pemuda itu menatap wajah mereka.
“oooohhh gitu ya ka.” Mereka berdua berkata kepada pemuda itu.
“Eh kalian mau cari kerja, kebetulan aku mempunyai bapak yang kerja di salah satu kantor  koran di kota ini. Apa kalian mau?” pemuda itu tersenyum.
“Betul ka, aku mau sekali ka.” Tio berkata kepada pemuda itu.
“Rian kita dapat pekerjaan.” Memegang tangan Rian.
“Asiik kita dapat pekerjaan, kapan ka?” Rian berkata kepada pemuda itu.
“ Besok aku datang lagi di sini, da da kawan-kawan.” Dengan berlari sambil melambaikan tangannya.
Akhirnya mereka mendapatkan pekerjaan. Mereka  pergi mengamen dengan rasa senang.
Ke esokan harinya pemuda itu menepati janjinya dan mereka berdua kerja sebagai penjual koran. Begitualah perjalanan saya menjadi seorang penjual koran dan saya bersyukur bisa hidup di negeri ini.
*Anggota FLP SULSEL.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar