HATI RAKYAT
Oleh : * SUNARWAN SULAIMAN
Perkenalkan nama saya Rian. Saya tinggal di bawah
jempatan. Pekerjaan sehari-hari saya mengamen. Di pagi hari seperti biasa saya
terbangun oleh suara kendaraan yang
melintas di bawah jempatan. Saya tidur bersama sahabat namanya Tio. Hari
ini sangat cerah. Waktunya untuk mencari makan sedangkan teman saya masih tidur
karena kecapean mengamen tadi malam. Saya pergi mengamen di zebra cross. Mata
saya tertuju pada mobil hitam. Saya berlari menuju kesana dan bernyanyi.
Seorang wanita membuka jendela mobil dan memberikan uang seribu kepada saya.
Dan kemudian saya mengucapkan.
“terima kasih bu.”
Ibu itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Akhirnya
saya mendapatkan uang dan saya pergi membeli roti untuk menjanggal perut. Saya
duduk di pinggir jalan sambil makan roti dan melihat mobil melintas.
Teman saya terbangun oleh suara mobil truck. Dengan
wajah mengantuk sambil mengusapkan tai matanya. Teman saya melihat diriku ini
sedang duduk di pinggir jalan dengan mata bercahaya. Teman saya menghampiriku.
“Makan tidak bagi-bagi.” Berkata sambil berjalan
kepadaku.
“Eh kamu sudah bangun.”
“Kenapa nggak mengamen?”
“Kamu nggak liat aku sedang makan.” Mengankat alis
sambil berkata kepada Tio.
“oh iya, aku lupa.” Menjawab dengan senyum
“Kamu kenapa nggak ngamen juga?”
“Aku masih ngantuk. Soalnya tadi malam aku mengamen
di pinggir pantai.”
“Oooh.”
Temanku ikut duduk bersamaku dan melihat langit
sambil berkata.
“Sampai kapan ya kita begini?”
“Maksud kamu.”
“Maksud saya sampai kapan kita mengamen?. Padahal
mengamen itu tidak menghasil uang banyak. Hanya sebagian orang-orang yang mau
memberikan uangnya kepada kita. Padahal kita terkadang marah-marah kepada orang
yang tidak memberikan uangnya kepada kita.” Sambil menundukkan kepalanya.
“Sabar saja, itu sudah pekerjaan kita.”
“Ah mengapa aku menjadi pengamen?” sambil melihat
langit.
“Kamu tidak sadar ya ini sudah takdir kita.” Menatap
wajah Tio.
“Aku nggak percaya dengan namanya takdir. Takdir
bisa di ubah.”
“Eehhh kamu nggak lihat Presiden, Gubernur, dan Wali
kota saja nggak pernah perhatikan kita. Dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri.”
Dengan ekspresi marah.
“Sibuk apa si dia?”
“Wali kota kita sibuk dengan membangun gedung-gedung
pencakar langit.”
Tio tersenyum melihat ku.
“Padahal kota ini masih ada kekurangannya.”
“Kurang apalagi kota ini rumah sakit dimana-mana,
tempat hiburan sudah ada, dan hotel berbintang pun sudah ada dan juga mol. Apa
lagi sih kekurangannya?” dengan mengangkat kedua tangannya.
Saya pun tersenyum mendengar jawaban Tio.
“Kamu ingin tau kekurangannya kota ini.”
Tio membalas dengan menganggukan kepalanya.
“Banyak kekurangan kota ini. Wali kota kita sibuk
dengan membangun gedung-gedung pencakar langit, sehingga dia melupakan daerah
yang terkena banjir, pencurian di mana-mana, dan salah satunya kita. Dia
melupakan kita. Padahal kita lahir di negara ini. Apakah kita tidak mempunyai
hak untuk negara ini.” Dengan mata bercahaya.
“Iya ya banjir dimana-mana, pencurian, dan gedung
pencakar langit. Berarti pemimpin kita nggak ada artinya ya.”
“Jadi kita pasrah aja menjadi pengamen.” Menundukkan
kepalanya dan menjatuhkan air matannya.
Tio memegang pundaknya dan berkata.
“Kita jangan menyerah kawan. Semua ini akan ada
balasannya kawan. Kita harus cari kerja.”
“Gimana caranya cari kerja?. Kita saja tidak pernah
sekolah.”
“Bersemangatlah, apa sih yang tidak bisa di dunia
ini?”
“Kau bersemangat sekali.”
Seorang pemuda melihat kita berdua duduk di jalanan
dan dia menuju kesini.
“Selamat pagi?” kata pemuda itu.
“Selamat pagi juga.” Mereka berdua menjawab.
“maaf aku mengganggu.”
“iya ngga papa, kenapa ka?”
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.
Tadi kalian berbicara tentang presiden
kalau tidak salah.”
“Oooh itu ka. Kaka tidak salah, kami memang
bercerita tentang itu.” Pemuda itu langsung duduk.
“Perkenalkan nama
saya Ari.” Dengan mejabat tangan mereka.
“Namaku Rian dan disampingku Tio. Jadi begini
ceritanya ka, temanku malas menjadi pengamen. dia ingin mencari kerja, tetapi
aku tidak. Karena pemerintah tidak pernah perhatikan kita.” Rian melihat pemuda
itu matanya bercahaya.
Pemuda itu mengusapkan matanya dan berkata.
“Semua ini karena Demokrasi dan kalian adalah korban
dari modernisme. Kalian di lupakan oleh pemerintah karena budaya barat masuk ke
negeri ini. Dulu pada zaman soekarno tidak ada pengamen dan pengemis. Yang ada
hanya berjiwa garuda. Hati kita satu dengan pulau-pulau yang lain dan juga
pancasila ada di hati kita, tapi sekarang tidak ada. Sekarang hanya ada
konflik, demo, dan korupsi. Kalian adalah korban Demokrasi.” Mereka terkejut
mendengarkan perekataan pemuda itu.
“Demokrasi itu apa ka dan modernisme itu apa ka.”
“Hehehe kamu nggak tau apa itu Demokrasi dan
Modernisme. Berhenti sejenak dan melihat langit.
“Demokrasi itu kebebasan berpendapat dan modernisme
itu berasal dari kata modern dan kalian sudah merasakannya tiap hari. Hehehe
beginilah para elit-elit politik yang memakai kata tingkat tinggi, sehingga
sebagian masyarakat tidak tau makna dari demokrasi dan modernisme. Coba kalau
para elit-elit kita bicara apa adanya dan tidak menggunakan bahasa tingkat
tinggi. Pasti kalian tau hehehehe. Kalian adalah korban Demokrasi.” Pemuda itu
menatap wajah mereka.
“oooohhh gitu ya ka.” Mereka berdua berkata kepada
pemuda itu.
“Eh kalian mau cari kerja, kebetulan aku mempunyai
bapak yang kerja di salah satu kantor
koran di kota ini. Apa kalian mau?” pemuda itu tersenyum.
“Betul ka, aku mau sekali ka.” Tio berkata kepada
pemuda itu.
“Rian kita dapat pekerjaan.” Memegang tangan Rian.
“Asiik kita dapat pekerjaan, kapan ka?” Rian berkata
kepada pemuda itu.
“ Besok aku datang lagi di sini, da da kawan-kawan.”
Dengan berlari sambil melambaikan tangannya.
Akhirnya mereka mendapatkan pekerjaan. Mereka pergi mengamen dengan rasa senang.
Ke esokan harinya pemuda itu menepati janjinya dan
mereka berdua kerja sebagai penjual koran. Begitualah perjalanan saya menjadi
seorang penjual koran dan saya bersyukur bisa hidup di negeri ini.
*Anggota FLP SULSEL.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar