CERPEN-MITOS
Oleh : * SUNARWAN. SULAIMAN
Hari selasa pagi ketika aku ada di kampus. Ini hari
yang benar-benar menguras otakku. Aku punya teman yang menderita penyakit ayan
namanya Rio. Tempat kejadian perkaranya di depan wc pegawai kampus. Awal
ceritanya saat aku dan teman-teman menuju keruangan 306 untuk menjalani
perkuliahan, tiba-tiba salah satu dari teman aku jatuh dan tergeletak tak
berdaya. Saat itu aku berbaris paling belakang. Aku mendengar suara keras benda
yang jatuh braaaakkkk. Aku bergegas ke tempat kejadian perkara dan melihatnya. Ternyata
yang jatuh adalah Rio, tetapi teman-teman aku mala kabur kaya melihat sesuatu
yang menakutkan. Dan aku pun berkata kepada teman-teman.
“Mengapa kalian kabur ?.”
“Kalau kenako air liurnya jadi begituko tu.” Salah
satu dari teman aku berkata kepadaku.
Aku pun ikut lari bersama teman-teman dan tiba-tiba
aku berhenti di anak tangga yang pertama. Aku terdiam dan berpikir.
“Mengapa aku harus lari?.”
Padahal dalam hidup ini kita harus tolong menolong.
Aku kembali ke tempat kejadian perkara yang dimana Rio tergeletak tak berdaya.
Saat aku di sana aku melihat Rian. Dia salah satu teman aku yang berwajah
dewasa diantara teman-teman dan dia
pekerja keras.
“Bantuka dulu Tio ambilkanki labtopnya Rio.” Rian berkata kepadaku.
Aku pun mengambil labtopnya yang jatuh bersama dia.
Tanpa aku sadari air liurnya ada di labtopnya dan aku menyentuhnya dengan jari
tangan kananku. Saat itu aku tidak memikirkan menularnya penyakit itu. Yang ada
dipikiranku hanyalah membantu teman. Ketika aku mau mengangkat kakinya, tiba-tiba
Rian memukul pahanya dengan keras.
“Kenapako
pukul pahanya?” Aku berkata kepada Rian
“Supaya
sadarki.”
Dan aku
melihat Rio mulai sadar dari penyakit ayannya.
“Syukur alhamdulillah Rio sudah sadar.” Aku berkata
dalam hati.
Dan setelah itu aku menuju ke kamar mandi untuk
mencuci tangan dan kemudian kami pun melanjutkan perkuliahan.
Ketika sedang berlangsungnya perkuliahaan. Aku duduk
terdiam dan memikirkan sesuatu sedangkan teman-temanku mendengarkan materi dari
dosen. Kata air liur itu terus bolak balik dipikiranku. Aku pergi menhampiri
Rian.
“Rian saya sentuh tadi air liurnya Rio. Nda apa-apaji
itukah?.” Aku berbisik kepada Rian.
“Jangan ko ribut menjelaskan dosen di atas.” Jawab Rian
dengan wajah kusut.
Karena jawabannya Rian tidak sesuai dengan
pikiranku. Aku pun memaksanya dengan menarik bajunya.
“Cepatko kasih tau kah penting sekali ini.” Kata Tio
Rian pun terdiam seakan-akan tidak mendengarkan
ucapanku. Aku duduk dan memikirkannya sampai waktu mata kuliah habis. Disaat
mata kuliah habis aku bertanya lagi.
“Rian siniko dulu”
“Apa...? Kamu
yang kesini.” Jawab Rian. Akupun kesana.
“Kenapoko lagi Tio?.” Kata Rian kepadaku.
“Saya sentuh tadi air liurnya Rio.”
“Ai...menular itu”
“Tapi sudah ji kucuci.” Aku pun berkata dengan wajah
yang takut.
“Ooo kalau sudah kau cuci nda papa ji.”
Aku puas dengan jawabannya Rian, tetapi masih ada
keraguan di hati ini. Mata kuliah sudah selesai dan kami pun pulang kerumah
masing-masing. Aku tinggal di perumahan dekat kampus.
Ketika aku berada di dalam rumah. Aku bergegas
memasak karena lapar. Aku merebus mie dan kemudian memakannya dengan lahap. Setelah
itu aku mengambil labtop dan bermain game bola. Ketika aku sedang asik bermain
game sebuah kata penyakit ayan lewat di pikiranku. Aku berhenti sejenak dan
berpikir.
“Makan ka
tadi.” Bicara dalam hati.
Aku merasa takut apabila terjadi apa-apa dengan
tubuhku, tetapi aku menghiraukanya. Aku lanjut bermain game. Saat merasa bosan bermain. Aku
berhenti dan pergi berbaring sejenak di kasur yang keras. Ketika aku sedang
berbaring kata penyakit ayan terlintas di otak ku. aku merasa takut dan gelisah.
Aku menarik nafas sambil menutup mata. Tidak lama kemudian aku berpikir ada Tanteku
kerja di rumah sakit dan siapa tau dia mengetahui penyakit ini. Aku pun pergi
kesana.
Aku mempunyai Tante yang tinggal di jalan belimbing.
Dia mempunyai anak dua dan seorang suami. Aku pergi dengan harapan bisa
menemukan jawaban atas ketakutanku ini. Aku pergi dengan motor miliku. Ketika
aku sampai di tempat rumahnya tante. Aku bertemu dengan anaknya tanteku dan aku
bertanya kepada anak itu.
“Dimana ibumu?”
“Tidak ada ibuku, belum pulang pi dari rumah sakit.”
“Bapakmu?”
“Belum pi juga, kenapako cari?”
“Nda ji, siapa di dalam?”
“Nda ada.” Dengan mengangkat kedua tangannya.
“Mau ko kemana itu?”
“Biasa anak muda pergi rumahnya teman.”
“Dimana rumahnya temanmu?”
“Di sebelah.” Dia bicara sambil lari menuju kerumah
tetangganya tanteku.
Aku pun masuk kerumah. Sambil menunggu tanteku
pulang aku menonton televisi. Tidak lama kemudian tanteku datang. Dia langsung
menuju ke kamarnya sambil tersenyum kepadaku. Aku ingin bertanya kepadanya,
tetapi dia langsung masuk ke kamarnya. Aku pun menunggu.Akhirnya tanteku muncul
di balik pintu kamarnya dan aku langsung bertanya kepadanya.
“Tante, itu penyakit ayan menularka?.”
“Iya... kalau kau sentuh air liurnya, ada ka temanmu kena penyakit ayan?.” Jawab Tanteku.
“Ada, tapi kalau di cuci ji tidak apa-apa ji to.”
Aku pun membalas seakan-akan takut.
“Nda papa ji, tapi kalau ada temanmu kena begituan
jangan kasih kena air.”
“Kenapa kalau kena air?.” Aku membalas dengan wajah
penasaran.
“Kalau kena air meninggal itu.” Sambil menuju ke
dapur.
“Aku berpikir itu Cuma mitos. Mungkin kalau temanku
ini mandi di kolam renang, tiba-tiba penyakitnya muncul. Ketika tidak ada orang
yang melihatnya manassami meninggal.” “Apakah
mungkin aku terinveksi oleh penyakitnya temanku?. Seandainya aku terinveksi
oleh penyakitnya temanku. Apakah sahabat aku masih mau berteman denganku?.” Dalam
hati
Tanteku melihat aku sedang kebingunan tentang
penyakit ayan.
“Kalau masih bingungko dengan penyakit ayan. Kamu bisa
bertanya kepada Google. Semua yang kamu tanya pasti terjawab oleh Google.” Kata
Tante kepadaku.
“Wah..kenapa tidak terpikirkan.” Dengan wajah
senang.
Google bisa menjawab semua pertanyaanku. Kemudian
aku bangun dan mencari handpone. Aku memencet-mencet dan membuka Opera Mini.
Dan kemudian aku menuliskan kata Apakah
menular penyakit ayan?. Aku tidak sabar menunggunya, tetapi singal lemah.
Aku menungguh dan menungguh hingga akhirnya terbuka. Dan ternyata semua
perkataan orang itu semuanya bohong. Itu hanya perkataan orang yang tidak mau
menolong sesamanya.
Bahwa penyakit ayan itu hanya penyakit syaraf. Semua
orang bisa kena apabila kecelakaan menghampirinya hingga terbentur kepalanya
dan akhirnya ada salah satu syarafnya putus. Bukan hanya kecelekaan, bisa saja terlalu banyak berpikir hingga
otaknya tidak mampu dan akhirnya ada syarafnya putus. Jadi semuanya itu bohong.
Akhirnya kegelisahanku bisa terjawab oleh google dan aku merasa senang.
*Anggota
FLP SULSEL.
Casino City - Mapyro
BalasHapusThe Casino City Hotel is 광양 출장안마 the ideal spot 세종특별자치 출장샵 for entertainment and leisure activity. Located on the waterfront in Chinatown, the casino offers the perfect Address: 광주 출장안마 777 Casino Center 고양 출장샵 Dr, Las Vegas, NV 89169Phone: (702) 하남 출장마사지 770-7133